Minggu, 15 Februari 2009

Jayapura Banjir, Dewan Ikut Prihatin


Kossay: Pemkot Tidak Konsisten Dengan Aturannya

(SMA Negeri 4 Banjir Lagi, 500-an Siswa Tak Bisa Belajar)

JAYAPURA- Banjir yang melanda sebagian wilayah Kota Jayapura, akibat guyuran hujan yang melanda Kamis malam lalu, rupanya tak luput dari perhatian Wakil Ketua DPR Papua Paskalis Kossay, S.Pd.
Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi itu akibat dari kesalahan manusia sendiri yang tidak menjaga lingkungannya dengan baik. Sebab kata dia, rusaknya lingkungan adalah factor penyebab terjadinya bencana atau banjir tersebut. "Dari awal sebenarnya kita sudah wanti- wanti akan hal ini," ujarnya kepada Cenderawasih Pos kemarin.
Ia menilai pengembangan permukiman yang sekarang ini masih terus dilakukan di sekitar pegunungan Cyclop telah merubah tatanan lingkungan di sekitar pegunungan itu, sebab di hutan Cyclop sesungguhnya adalah areal konservasi yang harus dijaga hutannya.
"Tetapi yang kita lihat di bagian Entrop itu sebagian besar sudah gundul, di sana dibangun perumahan," katanya.
Akibatnya di tempat itu sudah tidak ada tempat peresapan air lagi dikala hujan, sehingga bagi dia tidak heran jika akhirnya terjadi setiap kali turun hujan. "Jadi itu sebabnya setiap kali hujan Entrop pasti banjir karena di bagian atas sudah tidak ada pohon untuk tempat untuk menyimpan air," katanya.
Kossay sangat yakin bahwa Pemkot Jayapura pasti memiliki aturan atau Perda yang memuat tentang larangan pembangunan di sekitar Cyclop, tetapi ia menilai Perda itu tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga masih ada orang yang membangun di sekitar areal Cyclop.
Tak hanya itu, Pemkot juga sudah menentukan bahwa areal pengembangan kota akan dilakukan di wilayah Timur Kota Jayapura, yakni ke arah Koya, tetapi hal itu ternyata belum sepenunya dilakukan. "Sejak awal kita juga sudah sampaikan bahkan Pemkot juga sudah memiliki tata ruang yang menentukan bahwa pengembangan kota dilakukan di wilayah Timur, tetapi sepertinya Pemkot tidak konsisten karena sampai sekarang masih saja ada pembangunan di wilayah konservasi," katanya.
Kata dia, wilayah Timur adalah satu-satunya cara bagi Pemkot untuk melakukan pengembangan kota. Untuk itu Tata Ruang itu harus dilaksanakan dengan baik. Selama tata ruang itu tidak dilaksanakan atau diikuti dengan baik, maka sulit bagi Kota jayapura akan terhindar dari bahaya seperti banjir.
Tak hanya itu, Kossay juga menilai bahwa pembangunan draenase di sekitar Kota Jayapura juga masih belum tertata dengan baik. Draenase antara satu dan lainnya tidak terintegrasi secara baik, sehingga di sejumlah tempat ada draenase yang terhambat belum lagi jika ada sampah atau material lainnya yang memenuhi saluran air sehingga menghambat aliran air. "Ini semua harus menjadi bahan pemikiran Pemkot, karena sayang juga kalau terus - terusan seperti ini, setiap kali hujan, pasti terjadi banjir, kita semua tidak ingin seperti ini apalagi Kota Jayapura adalah Ibu Kota Provinsi Papua yang sudah tentu menjadi cermin provinsi ini," tandasnya.
Atasi Banjir Dadakan Dengan Pembersihan Drainase
Sementara itu terkait dengan banjir dadakan ini, Pemkota melalui Dinas PU akan mengambil langkah prioritas dalam melakukan pembersihan drainase air (selokan) untuk mengatasi kemungkinan banjir dadakan yang muncul setelah hujan lebat.
Sedangkan bagi daerah yang dinilai belum memiliki sistem pembuangan air yang baik, menjadi masukan penting bagi pihaknya dalam pengusulan pembuatan saluran air secara terpadu.
Demikian Kepala Dinas PU Kota Jayapura, Ir. Agustinus Sapang, saat ditemui disela-sela kegiatannya di PTC, Entrop, Jumat (13/2) pagi.
Prioritas langkah pembersihan selokan tersebut menurutnya berdasarkan atas dasar pertimbangan masih cukup berfungsinya secara normal saluran pembuatan air. Ia mengambil sampel kejadian yang terjadi Kamis (12/2) malam di depan PTC ataupun Perumahan Lembah Vuria Kotaraja. Meskipun terjadi banjir dadakan dengan debet air lumayan akibat luapan air hujan yang cukup tinggi, namun air tetap mengalir dan tidak menimbulkan genangan dalam jangka waktu lama.
"Ini kan artinya got berfungsi, hanya saja secara umum kondisinya tidak mampu mengalirkan debet air yang berlebihan dengan analisa saluran yang makin kecil kemampuannya akibat sampah utamanya sampah plastik," katanya.
Untuk itu langkah pembersihan drainase yang selama ini dilakukan dianggap masih cukup memadai untuk mengurangi dampak tersebut, hanya saja dengan keterbatasan jangkauan yang dimiliki mungkin ada yang kebetulan belum bisa tuntas dibersihkan.
Upaya pembesaran drainase lanjutnya juga menjadi masukan penting dalam penganggaran pada kegiatan dimasa datang. Sebab soal penetapan perbaikan yang membutuhkan dana besar banyak melalui pertimbangan, terutama soal ketersediaan anggaran.Dengan adanya dampak kemarin, pihaknya berjanji akan lebih mengkoordinasikan dengan instansi terkait.
Terkait dengan 'dalamnya' banjir dadakan di sekitar Perumahan Furia Puskopad Kotaraja, yang dihubungkan dengan adanya pembukaan lahan di bagian atas perbukitan sekitar lokasi tersebut, sebenarnya hal tersebut sudah dipikirkan PU. Namun untuk tahun ini, mungkin lebih berkonsentrasi pada pembuatan badan jalan sedangkan drainase airnya menyusul di belakang.
Pihaknya berharap agar masyarakat bisa memahami keterbatasan PU Kota Jaypura yang memang terkait dengan banyaknya keluahan masyarkat seiring bertambahnya pendudukan kebutuhan yang sarana pemukiman yang baik juga semakin tinggi.
"Kita juga minta kesediaan warga untuk membantu pemerintah, salah satunya tidak membuang sampah di saluran air sebab akan mengganggu aliran air yang penting bagi penataaan kawasan.

Banjir SMAN 4///
Hujan deras yang mengguyur Kota Jayapura dan sekitarnya Kamis malam (12/2), tidak hanya membuat banjir di sejumlah tempat, namun SMA Negeri 4 Jayapura yang berlokasi di Entrop itu juga tergenang banjir.
Akibat kejadian ini, Jumat (13/2) kemarin, ratusan siswa di SMA Negeri 4 Jayapura ini tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar, karena sebanyak 13 ruang di sekolah tersebut tergenang air dan lumpur.
Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Edit Janny Soelistiowati,S.Pd saat ditanya Cenderawasih Pos mengatakan, pada Kamis malam (12/2) sekitar pukul 23.00 WIT, 2 orang guru dan penjaga sekolah yang tinggal di komplek SMA Negeri 4 itu sudah melakukan upaya untuk membendung air dari rawa yang masuk ke lokasi sekolah, namun karena hujan cukup deras, sehingga luapan banjir yang dari luar itu tetap bisa masuk ke lokasi sekolah ini.
"Akibat masuknya air dari rawa itu, 13 ruang kelas tergenang air mencapai sekitar setengah meter, yang terdiri dari 10 ruang milik kelas X dan 3 ruang yang sudah kosong, sehingga sekitar 500-an siswa kelas X itu tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar," paparnya.
Dengan kondisi ini, para siswa dan guru di SMA Negeri 4 tersebut kemudian melakukan kerja bhakti untuk membersihkan ruang-ruang kelas yang tergenang air dan lumpur itu.
Dikatakan, banjir di SMA Negeri 4 ini memang sudah sering terjadi dan ketika dirinya dipercaya menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 4 ini, langkah yang dilakukannya antara lain dengan membuat talud di depan pintu setinggi 0,5 meter untuk mencegah masuknya air ke dalam kelas, namun karena banjir lebih tinggi, sehingga air tetap bisa masuk ke dalam ruang kelas.
Upaya lainnya, pihak sekolah sudah membuat permohonan pembuatan drainase ke Dinas Pekerjaan Umum Kota Jayapura dan Provinsi Papua, namun hingga kini belum ada realisasinya. "Sebelum saya di sini, sudah pernah ada kunjungan dari DPR RI dan dari Pemda, tetapi kunjungan itu belum membawa perubahan bagi sekolah kami," ujarnya.
Pihaknya berharap, seandainya permohonan pembangunan drainase itu tidak bisa direalisasikan, setidaknya pemerintah memprogramkan pembangunan ruang kelas baru untuk menggantikan ruang kelas yang sering terkena banjir itu, karena memang lokasi tersebut termasuk rendah. "Seperti halnya ruang-ruang kelas untuk kelas XI dan XII, ruang-ruang itu tidak terkena banjir karena bangunannya lebih tinggi," ucapnya. (ta/eno/fud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar